DPM UII Dalwa Perkuat Kapasitas Intelektual Mahasantri melalui Seminar Akademik tentang Tantangan dan Problematika Zaman

UII DALWA – Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) UII Dalwa menyelenggarakan seminar akademik bertajuk “Bekal Mahasantri Menjawab Tantangan dan Problematika Zaman” pada Jumat (31/7/2026). Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Lantai 10 Mabna Abuya Hasan Baharun tersebut menjadi forum penguatan kapasitas intelektual dan spiritual mahasantri dalam menghadapi dinamika perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, serta perubahan sosial di era modern.

Seminar dilaksanakan dalam tiga sesi yang menghadirkan narasumber dari kalangan akademisi dan ulama. Sesi pertama diisi oleh Ustaz Muhammad Nuruddin, Lc., M.A., sesi kedua menghadirkan Habib Muhammad Muthohar, sementara sesi penutup disampaikan oleh Habib Zainal Abidin Balfaqih bersama Habib Muhammad Muthohar.

Rangkaian kegiatan diawali pukul 09.00 WIB dengan pembacaan Tartibul Fatihah yang dipimpin Al Ustaz Islah, dilanjutkan sambutan Ketua Panitia dan Presiden Mahasiswa UII Dalwa. Pembukaan tersebut menjadi penanda dimulainya forum akademik yang bertujuan membangun budaya berpikir kritis sekaligus memperkuat fondasi keilmuan mahasantri.

Pada sesi pertama, Ustaz Muhammad Nuruddin menyampaikan materi bertajuk “Mengasah Nalar, Meneguhkan Iman: Melatih Berpikir Kritis dan Literasi di Era Modern.” Dalam paparannya, beliau menegaskan bahwa kemampuan berpikir logis, kritis, dan sistematis merupakan kompetensi penting yang harus dimiliki generasi santri untuk mampu merespons berbagai tantangan kontemporer secara proporsional dan berlandaskan nilai-nilai keislaman.

Menurutnya, berbagai persoalan yang muncul pada era modern sesungguhnya telah memperoleh perhatian dalam khazanah intelektual Islam klasik. Oleh sebab itu, penguasaan terhadap ilmu mantiq (logika) dan ilmu kalam menjadi instrumen penting dalam membangun argumentasi ilmiah serta memperkuat kemampuan analisis terhadap berbagai isu yang berkembang di masyarakat.

Beliau juga menekankan bahwa proses pembelajaran tidak boleh berhenti pada aktivitas membaca dan menghafal semata, melainkan harus dikembangkan melalui tradisi musyawarah, kajian ilmiah, penelitian, penulisan, serta praktik mengajar sebagai bagian dari pembentukan budaya akademik di lingkungan perguruan tinggi.

“Jangan cuma membaca dan menghafal. Pemahaman itu harus dimusyawarahkan, dikaji, dan dipraktikkan,” tegas Ustaz Muhammad Nuruddin.

Dalam sesi wawancara bersama Pers Dalwa Berita, Ustadz Muhammad Nuruddin menjelaskan bahwa logika memiliki peran strategis dalam membentuk pola pikir yang objektif sehingga seseorang tidak mudah terjebak pada sikap emosional maupun penilaian yang terburu-buru, terutama di tengah fenomena krisis identitas yang banyak dialami generasi muda.

“Logika berperan membentuk cara berpikir kita. Cara berpikir itulah yang menentukan bagaimana kita merespons realitas sehingga tidak mudah menghakimi,” ungkapnya.

Lebih lanjut, beliau mendorong para mahasantri agar terus mengembangkan potensi, minat, dan keahlian sesuai bidang yang diminati. Menurutnya, spesialisasi keilmuan yang dibangun atas dasar ketekunan dan kecintaan terhadap ilmu akan melahirkan sumber daya manusia yang memiliki kontribusi nyata bagi umat dan masyarakat.

“Temukan bidang yang menjadi minat dan keahlian Anda. Dalam disiplin ilmu apa pun, selama ditekuni dengan sungguh-sungguh, insya Allah akan menjadi jalan untuk memberi manfaat bagi masyarakat,” pesannya.

Melalui penyelenggaraan seminar ini, DPM UII Dalwa menegaskan komitmennya dalam menghadirkan ruang-ruang akademik yang mampu mengintegrasikan tradisi intelektual Islam dengan tantangan perkembangan zaman. Kegiatan tersebut diharapkan menjadi sarana pembentukan mahasantri yang memiliki kedalaman ilmu, keluasan wawasan, kemampuan berpikir kritis, serta keteguhan akhlak sebagai bekal menjadi insan akademik yang adaptif, moderat, dan berdaya saing di tingkat nasional maupun global.Aufan/Randi.S./red.

Share:

More Posts

Send Us A Message