UII DALWA – Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) UII Dalwa menyelenggarakan Seminar Akademik bertema “Tantangan Santri Menghadapi Problematika Zaman” pada Jumat (31/7/2026) di Auditorium Lantai 10 Mabna Abuya Hasan Baharun. Kegiatan ini menghadirkan ulama muda sekaligus pendakwah nasional, Habib Muhammad bin Farid Al-Muthohar, S.H., sebagai narasumber utama.
Seminar tersebut merupakan rangkaian lanjutan dari sesi pertama yang menghadirkan Ustaz Muhammad Nuruddin dengan pembahasan mengenai urgensi ilmu mantiq sebagai fondasi berpikir kritis dalam menghadapi tantangan kontemporer. Melalui dua sesi tersebut, DPM UII Dalwa berupaya menghadirkan ruang akademik yang mengintegrasikan penguatan intelektual, spiritual, dan karakter mahasiswa dalam merespons dinamika perkembangan zaman.
Dalam paparannya, Habib Muhammad Al-Muthohar menekankan bahwa tantangan utama generasi santri pada era digital tidak hanya berkaitan dengan derasnya arus informasi, tetapi juga kemampuan menjaga keteguhan iman, persatuan umat, serta integritas moral di tengah berbagai ujian kehidupan.
Beliau mengibaratkan seorang mukmin sebagai pohon yang tetap memiliki ketahanan meskipun diterpa berbagai cobaan.
“Mukmin itu bagaikan pohon. Ketika diterpa angin mungkin ia akan bergoyang, tetapi setelah angin reda, ia akan kembali berdiri tegak,” ungkapnya.
Menurutnya, ketangguhan spiritual menjadi modal utama bagi santri untuk menghadapi perubahan sosial yang berlangsung sangat cepat. Ketahanan tersebut harus diiringi dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan kemampuan membaca realitas zaman secara bijaksana.
Selain itu, Habib Muhammad Al-Muthohar mengajak para santri untuk memanfaatkan media sosial sebagai sarana dakwah yang produktif dan edukatif. Di tengah maraknya penyebaran informasi yang berpotensi memecah belah persatuan umat, ia menilai bahwa generasi muda Islam memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan narasi yang konstruktif, moderat, dan bernilai kemaslahatan.
“Apabila media sosial digunakan untuk memecah belah umat Islam, maka kita harus melawannya dengan menyebarkan konten-konten dakwah dan konten yang mengajak masyarakat kepada kebaikan,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa dakwah digital merupakan salah satu bentuk adaptasi strategis terhadap perkembangan teknologi informasi. Oleh karena itu, santri tidak cukup hanya menguasai ilmu-ilmu keislaman, tetapi juga dituntut memiliki literasi digital agar mampu menyampaikan nilai-nilai Islam secara efektif kepada masyarakat luas.
Dalam sesi wawancara usai kegiatan, Habib Muhammad Al-Muthohar berharap seminar tersebut mampu melahirkan generasi santri yang memiliki keberanian intelektual, kreativitas, serta kesiapan menghadapi tantangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman.
“Mudah-mudahan lahir santri-santri yang kreatif, berani memperdalam ilmu-ilmu agama sekaligus memahami perkembangan zaman sehingga mampu menghadapi berbagai bentuk kebatilan yang muncul pada era ini,” ujarnya.
Seminar akademik ini menjadi bagian dari komitmen DPM UII Dalwa dalam membangun budaya akademik yang responsif terhadap isu-isu kontemporer. Melalui forum ilmiah tersebut, mahasiswa didorong untuk mengembangkan kapasitas intelektual, memperkuat karakter kepemimpinan, serta meningkatkan literasi digital sebagai bekal menghadapi transformasi sosial di era global.Gavin/Randi.S./red.






