UII DALWA dan Keraton Kasepuhan Cirebon Perkuat Kerja Sama Akademik dan Pelestarian Sejarah

Gambar2

Cirebon, 3 September 2026 – Upaya memperkuat jejaring akademik dan memperluas ruang pembelajaran sejarah dilakukan Program Studi Sejarah Peradaban Islam (SPI), Fakultas Ushuluddin dan Adab, Universitas Islam Internasional Darullughah Wadda’wah (UII DALWA) melalui kunjungan ke Keraton Kasepuhan Cirebon, Kamis, 3 September 2026.

Kunjungan tersebut menjadi bagian dari kegiatan akademik mahasiswa SPI dalam mengenal secara langsung berbagai sumber sejarah dan warisan peradaban Islam di Cirebon. Tidak hanya melakukan kunjungan edukatif, UII DALWA juga menjadikan kesempatan tersebut sebagai momentum untuk membangun kerja sama kelembagaan dengan Keraton Kasepuhan dalam bidang penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta pengembangan kelembagaan.

Turut hadir dalam kunjungan tersebut Wakil Rektor II UII DALWA, Dr. Samsul Huda, M.Pd., Wakil Rektor III, Assoc. Prof. Dr. Imaduddin, M.Pd., serta Habib Muhammad Agus, Ph.D. Kehadiran jajaran pimpinan universitas bersama Kaprodi dan dosen Program Studi Sejarah Peradaban Islam menunjukkan keseriusan UII DALWA dalam mengembangkan kolaborasi akademik dengan lembaga yang memiliki nilai historis dan kebudayaan.

Dalam agenda tersebut, pihak Keraton Kasepuhan diwakili oleh Pangeran Raja Goemelar Soeryadiningrat. Pertemuan antara kedua institusi menjadi ruang untuk memperkuat komunikasi sekaligus membuka peluang kerja sama yang lebih luas antara perguruan tinggi dan lembaga pelestari sejarah serta kebudayaan Cirebon.

Kerja sama yang dibangun mencakup bidang penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan pengembangan kelembagaan. Bagi UII DALWA, kolaborasi tersebut menjadi peluang untuk mengembangkan kajian sejarah dan peradaban Islam berbasis sumber-sumber sejarah yang terdapat di Keraton Kasepuhan.

Sementara bagi mahasiswa SPI, keberadaan keraton menjadi sumber pembelajaran yang sangat relevan dengan bidang keilmuan yang mereka tekuni. Keraton tidak hanya dapat dipahami sebagai peninggalan masa lalu atau pusat kekuasaan, tetapi juga sebagai ruang yang menyimpan berbagai sumber sejarah berupa artefak, manuskrip, benda pusaka, bangunan, tradisi, serta narasi sejarah yang diwariskan lintas generasi.

Kaprodi Program Studi Sejarah Peradaban Islam UII DALWA, Abdur Rahman, M.Hum., menilai kunjungan tersebut memberikan pengalaman akademik yang penting bagi mahasiswa. Menurutnya, pembelajaran sejarah akan lebih bermakna ketika mahasiswa dapat berinteraksi secara langsung dengan sumber-sumber sejarah.

“Mahasiswa sejarah perlu melihat secara langsung sumber-sumber sejarah yang mereka pelajari. Dengan berada di keraton, mereka dapat memahami bahwa sejarah bukan hanya narasi dalam buku, tetapi juga hadir dalam bentuk bangunan, artefak, manuskrip, tradisi, dan berbagai peninggalan yang masih dapat kita saksikan,” ujar Abdur Rahman, M.Hum.

Ia menambahkan, kerja sama dengan Keraton Kasepuhan memiliki prospek besar bagi pengembangan keilmuan Program Studi Sejarah Peradaban Islam, terutama dalam mendorong penelitian dan dokumentasi sumber-sumber sejarah.

“Kerja sama ini sangat penting bagi pengembangan keilmuan, khususnya bagi Program Studi Sejarah Peradaban Islam. Keraton memiliki kekayaan sumber yang dapat dikaji secara akademik, sehingga ke depan diharapkan terbangun kolaborasi penelitian, dokumentasi, maupun pengabdian kepada masyarakat,” tambahnya.

Pandangan tersebut sejalan dengan perhatian UII DALWA terhadap penguatan kerja sama kelembagaan sebagai bagian dari pengembangan pendidikan tinggi. Wakil Rektor III UII DALWA, Assoc. Prof. Dr. Imaduddin, M.Pd., menyampaikan bahwa kolaborasi dengan Keraton Kasepuhan memiliki nilai strategis dalam mempertemukan kepentingan akademik dengan upaya pelestarian sejarah dan kebudayaan.

“Kerja sama ini menjadi bagian penting dari upaya UII DALWA untuk memperluas jejaring akademik dan menghadirkan pembelajaran yang bersentuhan langsung dengan sumber-sumber sejarah. Keraton Kasepuhan memiliki kekayaan sejarah dan budaya yang sangat penting untuk dikaji, didokumentasikan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujar Imaduddin.

Menurutnya, kerja sama tersebut perlu diarahkan pada program-program nyata sehingga hubungan antara kedua institusi dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan.

“Kami berharap kerja sama ini tidak berhenti pada penandatanganan dokumen, tetapi dapat diwujudkan dalam berbagai program nyata, terutama penelitian bersama, pengabdian kepada masyarakat, kegiatan ilmiah, dan pengembangan pembelajaran mahasiswa. Dengan demikian, sumber-sumber sejarah yang ada dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi dunia akademik dan masyarakat,” tambahnya.

Usai agenda kerja sama, rombongan melanjutkan kegiatan dengan menjelajahi Museum Kasepuhan. Mahasiswa memperoleh kesempatan untuk mengamati secara langsung berbagai benda peninggalan Kesultanan Kasepuhan yang menjadi bagian dari warisan sejarah Cirebon.

Berbagai benda yang tersimpan di museum memberikan gambaran mengenai kehidupan masyarakat, perkembangan kebudayaan, serta dinamika politik dan sosial Kesultanan Cirebon. Pengamatan langsung terhadap benda-benda tersebut memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan dengan pembelajaran berbasis literatur di ruang perkuliahan.

Mahasiswa juga berkesempatan melihat secara langsung singgasana Sultan di Bangsal Panembahan Keraton Kasepuhan. Keberadaan ruang tersebut memberikan gambaran mengenai struktur kekuasaan Kesultanan Cirebon sekaligus memperlihatkan simbol-simbol legitimasi yang melekat pada kehidupan politik dan pemerintahan pada masa lalu.

Bagi mahasiswa SPI, ruang-ruang keraton dan berbagai benda peninggalan yang ada di dalamnya menjadi sumber pembelajaran untuk memahami hubungan antara kekuasaan, agama, kebudayaan, dan kehidupan sosial masyarakat. Dari sumber-sumber material tersebut, mahasiswa dapat melihat bagaimana peradaban Islam berkembang dan berinteraksi dengan kebudayaan lokal di Nusantara.

Kunjungan tersebut juga menegaskan pentingnya pembelajaran sejarah berbasis pengalaman. Mahasiswa tidak hanya mempelajari fakta dan narasi sejarah, tetapi juga dilatih untuk mengamati, mengidentifikasi, dan memahami sumber sejarah secara langsung. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam membentuk kemampuan mahasiswa sebagai calon akademisi, peneliti, maupun pemerhati sejarah dan peradaban Islam. (Adzim/Randi.S./Red.)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *