Mahasiswa SPI UII DALWA Saksikan Tradisi Adzan Tujuh dan Ziarah ke Makam Sunan Gunung Jati dan Syekh Dzatul Khafi

Cirebon, 4 September 2026 – Mahasiswa Program Studi Sejarah Peradaban Islam (SPI), Fakultas Ushuluddin dan Adab, Universitas Islam Internasional Darullughah Wadda’wah (UII DALWA), mendapatkan pengalaman akademik sekaligus spiritual melalui kunjungan ke sejumlah situs penting sejarah Islam di Cirebon pada 4 September 2026.

Salah satu pengalaman yang menarik tersebut adalah kesempatan menyaksikan secara langsung tradisi Adzan Tujuh yang dilaksanakan dalam konteks pelaksanaan salat Jumat di Masjid Sang Cipta Rasa, Cirebon. Tradisi tersebut menjadi salah satu fenomena keagamaan dan kebudayaan yang menarik untuk diamati karena memperlihatkan hubungan antara praktik keagamaan, tradisi lokal, dan sejarah Kesultanan Cirebon.

Bagi mahasiswa SPI, Adzan Tujuh tidak hanya dilihat sebagai sebuah praktik ritual, tetapi juga sebagai fenomena sejarah yang memperlihatkan bagaimana tradisi keagamaan berkembang dan dipertahankan dalam kehidupan masyarakat. Tradisi tersebut memberikan ruang bagi mahasiswa untuk memahami bahwa sejarah Islam di Nusantara memiliki karakter yang dinamis, dengan proses Islamisasi yang berlangsung melalui interaksi antara ajaran Islam dan budaya lokal.

Wakil Rektor II UII DALWA, Dr. Samsul Huda, M.Pd., menyampaikan bahwa pengalaman mahasiswa menyaksikan langsung tradisi keagamaan masyarakat Cirebon memiliki nilai penting dalam proses pembelajaran sejarah dan peradaban Islam.

“Mahasiswa tidak cukup hanya mempelajari sejarah melalui buku dan ruang kelas. Mereka perlu melihat secara langsung bagaimana tradisi keislaman tumbuh dan hidup di tengah masyarakat. Dari pengalaman seperti ini, mahasiswa dapat memahami bahwa perjalanan Islam di Nusantara memiliki kekayaan tradisi dan budaya yang sangat beragam,” ujar Dr. Samsul Huda, M.Pd.

Menurutnya, pembelajaran lapangan juga dapat membangun kesadaran mahasiswa mengenai pentingnya menjaga warisan sejarah dan kebudayaan Islam.

“Kita ingin mahasiswa memiliki wawasan akademik sekaligus kesadaran untuk menjaga warisan peradaban Islam. Tradisi, situs sejarah, dan peninggalan para ulama merupakan bagian dari kekayaan peradaban yang perlu dipelajari, dirawat, dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” tambahnya.

Pengalaman tersebut menjadi pembelajaran kontekstual bagi mahasiswa. Berbagai teori mengenai Islamisasi Nusantara yang dipelajari di ruang perkuliahan dapat dikaitkan dengan praktik keagamaan yang masih berlangsung di tengah masyarakat. Mahasiswa dapat melihat secara langsung bagaimana suatu tradisi menjadi bagian dari identitas dan ingatan kolektif masyarakat Cirebon.

Masjid Sang Cipta Rasa sendiri merupakan salah satu situs penting dalam sejarah perkembangan Islam di Cirebon. Bangunan masjid beserta lingkungan historis di sekitarnya menjadi bagian dari jejak perkembangan Islam dan kehidupan masyarakat Cirebon. Kunjungan tersebut memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengamati secara langsung arsitektur masjid, ruang ibadah, serta berbagai unsur historis yang melekat pada kawasan tersebut.

Keberadaan Masjid Sang Cipta Rasa juga memberikan gambaran mengenai hubungan antara agama, kebudayaan, dan kekuasaan dalam sejarah Cirebon. Bagi mahasiswa sejarah peradaban, keberadaan situs seperti ini menjadi sumber penting untuk memahami perkembangan masyarakat Islam melalui pendekatan sejarah, budaya, dan sosial.

Setelah mengunjungi Masjid Sang Cipta Rasa, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Astana Gunung Sembung untuk melaksanakan ziarah ke makam Kanjeng Sunan Gunung Jati dan Syekh Dzatul Kahfi. Ziarah tersebut menjadi bagian dari kegiatan yang memadukan pembelajaran sejarah dengan refleksi spiritual.

Sunan Gunung Jati merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah Islam di Cirebon dan termasuk Wali Songo yang memiliki pengaruh besar dalam proses penyebaran Islam di wilayah Jawa. Sementara itu, Syekh Dzatul Kahfi dikenal dalam tradisi sejarah dan keagamaan masyarakat Cirebon sebagai salah satu tokoh awal yang memiliki keterkaitan dengan perkembangan Islam di wilayah tersebut.

Bagi mahasiswa SPI, ziarah ke Astana Gunung Sembung memberikan kesempatan untuk mengenal lebih dekat jejak sejarah tokoh-tokoh Islam yang memiliki peran dalam perkembangan masyarakat Cirebon. Lingkungan makam juga menjadi ruang refleksi mengenai hubungan antara sejarah, tradisi ziarah, dan memori kolektif masyarakat Muslim. (Fasih/Randi.S./Red.)

Share:

More Posts

Send Us A Message