Rekonstruksi Integrasi Pendidikan dan Agama dalam Studium Generale Pascasarjana UII Dalwa Menuju Peradaban Unggul

IMG_4233-1600x800

UII DALWA – Pascasarjana UII Dalwa menyelenggarakan kegiatan studium generale bertema “Integrasi Pendidikan dan Agama Menuju Peradaban yang Unggul dan Kompetitif” pada Ahad (26/4/2026). Kegiatan ini berlangsung di lantai 9 Mabna Abuya Hasan, Bangil, dan menghadirkan Guru Besar UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. Imam Suprayogo,M.Pd. sebagai narasumber utama.

Kegiatan akademik ini diikuti oleh mahasiswa program pascasarjana serta mahasiswa strata satu (S1) sebagai bagian dari upaya institusional dalam memperkuat paradigma integrasi keilmuan sekaligus membangun karakter akademik berbasis nilai-nilai keislaman.

Rangkaian acara diawali dengan pembacaan Surah Al-Fatihah, kemudian dilanjutkan dengan sambutan dan pengantar oleh Direktur Pascasarjana UII Dalwa, Assoc. Prof. Dr. Zainal Abidin, M.Pd.CIQar,CIRK,CIE. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi atas kehadiran Prof. Imam Suprayogo yang dinilai memiliki kontribusi signifikan dalam pengembangan pendidikan tinggi Islam, khususnya di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

“Banyak gagasan beliau yang kami adaptasi dan kembangkan untuk kemajuan UII Dalwa,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya peran bimbingan dalam proses pembentukan generasi muda yang unggul. Menurutnya, kemajuan individu tidak dapat dilepaskan dari peran keluarga, khususnya orang tua, dalam memberikan arahan dan nilai-nilai dasar kehidupan.

Sesi utama diisi dengan pemaparan materi oleh Prof. Imam Suprayogo yang menyoroti urgensi integrasi antara dimensi intelektual dan spiritual dalam sistem pendidikan. Dalam pandangannya, esensi pendidikan tidak semata-mata terletak pada penguasaan ilmu pengetahuan, melainkan pada pembentukan akhlak yang menjadi fondasi utama peradaban.

Ia mengkritisi kecenderungan sistem pendidikan yang terlalu menitikberatkan pada aspek kognitif, sementara pembinaan hati dan moral kerap terabaikan. Menurutnya, seluruh pancaindra manusia, termasuk akal, sejatinya merupakan instrumen yang dikendalikan oleh hati atau ruh.

Dalam analoginya, Prof. Imam Suprayogo menggambarkan pancaindra sebagai “pembantu” dan hati sebagai “pemilik rumah”. Kecerdasan intelektual tanpa kendali hati yang bersih, menurutnya, berpotensi menimbulkan penyimpangan dalam pengambilan keputusan dan tindakan.

Ketidakseimbangan antara kecerdasan dan moralitas tersebut, lanjutnya, menjadi salah satu faktor munculnya berbagai persoalan sosial di masyarakat, di mana kecerdasan justru disalahgunakan untuk kepentingan yang tidak konstruktif.

Menjelang akhir pemaparannya, ia menyampaikan harapan agar Pondok Pesantren Dalwa mampu mengambil peran strategis sebagai mediator dalam meredam konflik dan perbedaan yang kerap muncul di tengah masyarakat.

“Dalwa memiliki posisi strategis sebagai pemersatu berbagai perbedaan,” ungkapnya.

Ia juga berharap UII Dalwa ke depan dapat menjadi pusat rujukan (center of excellence) dalam pengembangan pendidikan Islam, sehingga mampu menjadi poros bagi institusi pendidikan lain dalam membangun sistem pendidikan yang integratif dan berdaya saing tinggi.

Kegiatan ditutup dengan doa bersama dan sesi foto sebagai bentuk dokumentasi akademik. Melalui kegiatan ini, diharapkan terjadi penguatan paradigma pendidikan integratif yang tidak hanya menghasilkan lulusan cerdas secara intelektual, tetapi juga unggul dalam aspek moral dan spiritual sebagai fondasi peradaban yang berkelanjutan.Dafa/Randi.S./red.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *