Pasuruan – Program Studi Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab Universitas Islam Internasional Darullughah Wadda’wah kembali menggelar kunjungan ilmiah sebagai bagian dari penguatan pembelajaran sejarah berbasis situs (site-based learning) pada hari Selasa 12 Mei 2026. Pada kesempatan kali ini, civitas akademika melakukan studi lapangan ke Prasasti Cunggrang yang berada di bawah pengelolaan Yayasan Soepodjo Truno Djoyo bersama Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pasuruan.
Kegiatan akademik tersebut berlangsung di Dusun Sukci, Desa Bulusari, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, dan diikuti oleh mahasiswa serta dosen lintas disiplin ilmu. Kunjungan kali ini dinilai memiliki nuansa berbeda karena turut melibatkan sejumlah dosen dari berbagai program studi sebagai bentuk kolaborasi akademik interdisipliner.
Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Ketua Program Studi SPI, Samsul Huda, M.Pd., serta didampingi sejumlah dosen, di antaranya Dr. Arif Rahman, M.H.I., Dr. Muhammad Sulton, M.Pd., Dr. Hajar Aswad, M.H.I., dan staf akademik Pascasarjana Muhammad Dzulqornain, M.Pd..
Dalam kegiatan tersebut, rombongan mendapat pendampingan langsung dari juru pelihara situs, Ana Puji Astutik, yang memaparkan sejarah dan kandungan isi prasasti secara komprehensif. Ia menjelaskan bahwa Prasasti Cunggrang ditulis menggunakan aksara dan bahasa Jawa Kuno sekitar tahun 929 Masehi pada bagian depan dan belakang prasasti.
Menurutnya, secara umum prasasti tersebut memuat piagam resmi kerajaan terkait pembebasan pajak bagi masyarakat serta pemberdayaan sumber daya alam berupa mata air dari Gunung Penanggungan atau Gunung Pawitra. Selain itu, prasasti tersebut juga berisi penetapan desa sima atau tanah perdikan yang diberikan sebagai bentuk anugerah kerajaan.
“Prasasti Cunggrang juga berisi penetapan sima bagi bangunan penting dan sebagian besar permintaan oleh pejabat atau rakyat suatu desa. Prasasti tersebut merupakan bagian dari masa pemerintahan Mpu Sindok atau Sri Maharaja Rakehino pada Kerajaan Medang,” ujar Ana Puji Astutik.
Ia menambahkan bahwa Prasasti Cunggrang merupakan salah satu peninggalan penting dari era pemerintahan Mpu Sindok yang memiliki nilai historis tinggi dalam kajian sejarah Nusantara, khususnya terkait tata kelola pemerintahan, kebijakan sosial, dan pengelolaan sumber daya alam pada masa klasik Jawa Timur.
Sementara itu, Samsul Huda, M.Pd. menegaskan bahwa kunjungan ilmiah semacam ini menjadi sarana akademik strategis untuk memperdalam pemahaman mahasiswa terhadap sumber sejarah primer secara langsung.
Menurutnya, pembelajaran sejarah berbasis situs mampu memberikan perspektif yang lebih kontekstual dan kritis dalam memahami kebijakan kemaslahatan masyarakat yang pernah diterapkan pada masa lampau.
“Kegiatan seperti ini menjadi sarana kajian untuk mempelajari kembali isi yang tertera dan kebijakan yang pernah ada untuk kemaslahatan masyarakat pada prasasti tersebut yang berkaitan dengan sejarah Nusantara,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menilai pendekatan pembelajaran lapangan tidak hanya memperkuat pemahaman teoritis mahasiswa, tetapi juga membangun kesadaran historis terhadap pentingnya menjaga kelestarian sumber daya alam dan warisan budaya bangsa.
Program Studi Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab Universitas Islam Internasional Darullughah Wadda’wah berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan sebagai bagian dari pengembangan model pembelajaran sejarah yang integratif, dengan memadukan kajian teoritis, penelitian akademik, dan realitas lapangan dalam satu kesatuan pembelajaran ilmiah yang komprehensif.Hajar/Randi.S./red.


