UNUSA Gelar Seminar “Mental Health for Gen Z” di Dalwa, Bahas Tantangan Kesehatan Mental Generasi Muda

DSC09485-scaled

UII DALWA – Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) menggelar sosialisasi pengenalan kampus sekaligus seminar kesehatan bertajuk Mental Health for Gen Z pada Sabtu pagi (16/5/2026) di Savva Room, Dalwa Hotel. Kegiatan tersebut diikuti oleh sebelas perwakilan sekolah tingkat SMA/MA di wilayah Pasuruan sebagai bagian dari program pengabdian dan penguatan literasi kesehatan mental bagi generasi muda.

Acara ini dihadiri para sivitas akademika Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya, serta guru dan siswa kelas XII dari berbagai sekolah di Pasuruan. Turut hadir Dr. H. Akhmad Sahrandi, M.Pd.I Dosen sekaligus anggota Pengembangan Ekonomi Syariah UII Dalwa.

Dosen Fakultas Kedokteran UNUSA, Dr. Wiwik Winarningsih, dr., M.Kes, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan implementasi program Campus Go To Pasuruan, yaitu pengembangan aktivitas akademik kampus di luar lingkungan universitas melalui pendekatan kolaboratif dengan masyarakat dan lembaga pendidikan.

“Sesuai dengan tujuan utamanya adalah Campus Go To Pasuruan, jadi kita tidak hanya berada di dalam gedung, tapi kita juga keluar gedung untuk bersilaturahmi dan menjalankan program-program kampus itu di luar,” jelasnya.

Rangkaian kegiatan dimulai pukul 09.00 WIB dengan sambutan dari para dosen, dilanjutkan pengenalan universitas dan testimoni alumni. Agenda utama kemudian berfokus pada seminar kesehatan mental bertajuk Mental Health for Gen Z yang disampaikan oleh dokter spesialis kejiwaan, dr. Hafid Algristian, Sp.KJ.

Dalam paparannya, beliau mengulas berbagai tantangan psikologis yang dihadapi generasi Z di era digital. Menurutnya, generasi muda saat ini kerap disebut sebagai “generasi stroberi”, yakni tampak kuat dan baik secara luar, namun rentan secara mental dan emosional.

“Gen Z itu sering dikenal generasi strawberry,” ujarnya.

Beliau menjelaskan bahwa pascapandemi COVID-19, gangguan depresi menjadi salah satu persoalan kesehatan mental yang paling dominan pada kelompok usia produktif.

“Pascapandemi 2024 itu gangguan depresi menempati urutan pertama,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa kelompok usia 15 hingga 45 tahun menjadi kelompok yang cukup rentan mengalami gangguan kesehatan mental akibat tekanan sosial, perubahan pola interaksi, serta ketergantungan terhadap media digital.

Menurut dr. Hafid Algristian, Sp.KJ, media sosial memiliki pengaruh besar terhadap kondisi psikologis generasi muda karena mampu memengaruhi siklus dopamin (dopamine loop) yang berhubungan dengan perilaku adiktif dan kebutuhan validasi sosial.

“Ternyata dari media sosial sekarang ini, 30% permasalahan kejiwaan Gen Z bersumber dari media sosial,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, beliau juga mengapresiasi lingkungan pesantren yang dinilai mampu membatasi penggunaan media sosial secara lebih terkontrol.

“Saya bersyukur di lingkungan pondok pesantren penggunaan media sosial itu sangat terbatas,” tambahnya.

Selain membahas depresi dan media sosial, beliau juga menyoroti berbagai bentuk pelarian negatif yang sering muncul akibat tekanan mental, seperti judi online, pinjaman online, dan perilaku adiktif digital lainnya. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya penguatan komunikasi keluarga dan pendidikan karakter sejak dini.

Beliau mengimbau para orang tua untuk lebih memahami kondisi psikologis anak tanpa didominasi rasa khawatir berlebihan. Menurutnya, pendidikan karakter sederhana seperti membiasakan kata “maaf”, “tolong”, dan “terima kasih” memiliki dampak besar terhadap perkembangan emosional anak.

“Kalau kamu ingin mendapatkan perhatian dari orang lain, maka perhatikan dirimu sendiri. Kalau kamu ingin membahagiakan orang lain maka pastikan kamu juga punya kebahagiaan untuk dirimu sendiri,” pesannya.

Menutup kegiatan, Dr. H. Akhmad Sahrandi, M.Pd. menyampaikan bahwa seminar tersebut bukan sekadar ajang sosialisasi perguruan tinggi, tetapi juga menjadi ruang edukasi ilmiah bagi generasi muda dalam menghadapi tantangan era digital.

Beliau berharap peserta mampu memanfaatkan perkembangan teknologi secara bijak agar tidak berdampak negatif terhadap masa depan mereka.

“Harapannya Gen Z ketika mereka berhadapan dengan teknologi jangan sampai teknologi itu bisa menghancurkan masa depan mereka,” ujarnya dalam sesi wawancara bersama Dalwa Berita.

Melalui kegiatan ini, Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya menegaskan komitmennya dalam memperluas peran perguruan tinggi melalui edukasi kesehatan mental, penguatan literasi digital, pembinaan karakter generasi muda berbasis pendekatan akademik dan sosial kemasyarakatan serta menjajaki kerjasama dengan UII Dalwa dalam bidang kesehatan karena sudah didukung keberadaan klinik PHC Dalwa.Dhimas/Randi.S/red.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *