Cirebon – Perubahan teknologi membawa perguruan tinggi pada cara baru dalam menjalankan pendidikan dan mengelola lembaga. Perubahan itu yang menjadi salah satu pembahasan dalam kegiatan benchmarking Fakultas Ushuluddin dan Adab Universitas Islam Internasional Darullughah Wadda’wah (UII Dalwa) Pasuruan ke Fakultas Ushuluddin dan Adab Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon pada hari Kamis, 03 September 2026. Pertemuan tersebut sekaligus menjadi bagian dari langkah kedua program studi Sejarah Peradaban Islam UII Dalwa dalam membangun kerja sama di bidang akademik dan pengembangan kelembagaan.
Kerja sama tersebut dituangkan dalam Nota Kesepahaman antara Fakultas Ushuluddin dan Adab UII Dalwa dengan Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon. Dalam dokumen tersebut, kedua pihak sepakat menjadikan kerja sama sebagai landasan untuk mengembangkan hubungan akademik dan kelembagaan. Pertemuan antara kedua lembaga berlangsung dalam suasana akademik yang membicarakan perkembangan perguruan tinggi dari berbagai sisi. Pengalaman UIN Siber Syekh Nurjati dalam mengembangkan pendidikan berbasis teknologi menjadi salah satu hal yang menarik perhatian dalam kegiatan tersebut. Di sisi lain, UII Dalwa membawa pengalaman dan kebutuhan pengembangan program studi yang dapat dikembangkan melalui kerja sama antarlembaga.
Wakil Rektor III UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama, Prof. Dr. Hajam, M.Ag., melihat kerja sama ini memiliki peluang yang cukup besar untuk dikembangkan melalui penelitian dan publikasi. Salah satu bidang yang menurutnya menarik untuk dikerjakan bersama adalah kajian naskah Nusantara. Bagi dunia sejarah dan peradaban Islam, naskah Nusantara memiliki kedudukan penting karena menjadi salah satu sumber untuk melihat perjalanan intelektual dan kehidupan masyarakat pada masa lalu. Banyak pengetahuan mengenai Islam, tradisi keilmuan, kehidupan sosial, dan kebudayaan yang dapat ditelusuri melalui naskah-naskah tersebut.
Prof. Hajam mengatakan bahwa penelitian terhadap naskah Nusantara dapat menjadi ruang pertemuan keilmuan antara kedua perguruan tinggi. Hasil penelitian tersebut juga dapat dikembangkan menjadi karya ilmiah dan dipublikasikan secara bersama.
“Kerja sama ini bisa dikembangkan dalam penelitian dan publikasi, termasuk penelitian tentang naskah Nusantara. Kita juga bisa saling bertukar informasi mengenai perkembangan teknologi,” ujar Prof. Hajam.
Menurutnya, perkembangan teknologi perlu diikuti oleh perguruan tinggi melalui pertukaran pengalaman dan informasi. Perubahan teknologi berlangsung begitu cepat sehingga lembaga pendidikan perlu memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri. Teknologi, dalam konteks tersebut, dapat digunakan untuk mendukung penelitian dan penyebaran hasil penelitian agar dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas.
Pembicaraan mengenai teknologi kemudian berlanjut pada pengalaman UIN Siber Syekh Nurjati dalam mengelola pendidikan. Wakil Dekan I, Wakhid Nashruddin, M.Pd., Ph.D., menjelaskan bahwa pendidikan bermodel siber tidak hanya berbicara tentang perkuliahan melalui jaringan internet. Ada perubahan yang lebih luas dalam cara kampus menjalankan aktivitas akademik dan administrasinya. Wakhid menjelaskan bahwa UIN Siber Syekh Nurjati terus mengembangkan sistem digital dalam berbagai aktivitas kampus. Bahkan, dalam administrasi kelembagaan, kampus tersebut sudah tidak lagi menggunakan kertas sebagai bagian dari upaya membangun sistem kerja yang lebih berbasis digital.
“Di UIN Siber, kita sudah tidak lagi menggunakan kertas dalam administrasi. Banyak proses yang sebelumnya dilakukan secara manual sekarang sudah diarahkan melalui sistem digital,” jelas Wakhid.
Menurutnya, perubahan tersebut bukan hanya soal mengganti dokumen kertas dengan dokumen elektronik. Perguruan tinggi perlu mengubah cara kerja agar penggunaan teknologi benar-benar memberikan manfaat terhadap kegiatan akademik dan administrasi.
Hal yang sama berlaku dalam pembelajaran. Menurut Wakhid, model pendidikan siber harus tetap memperhatikan efektivitas pembelajaran. Mahasiswa tidak cukup hanya diberikan materi melalui platform digital. Dosen harus memastikan bahwa mahasiswa tetap dapat memahami materi, mengikuti proses pembelajaran, dan berinteraksi secara akademik meskipun prosesnya berlangsung dalam ruang digital. Pengalaman tersebut menjadi salah satu hal yang dapat dipelajari oleh perguruan tinggi lain dalam menghadapi perubahan pendidikan. Bagi Prodi Sejarah Peradaban Islam, perkembangan teknologi juga membuka ruang yang lebih luas untuk mengembangkan cara belajar sejarah. Sumber-sumber sejarah yang sebelumnya hanya dapat ditemukan dalam bentuk buku, arsip, atau dokumen fisik dapat mulai dikembangkan dalam bentuk digital.
Perubahan tersebut menjadi semakin penting karena mahasiswa saat ini tumbuh dalam lingkungan yang sangat dekat dengan teknologi. Cara mereka mendapatkan informasi juga berubah. Informasi sejarah tidak hanya diperoleh dari ruang kuliah atau buku, tetapi juga dari berbagai platform digital. Dekan Fakultas Ushuluddin dan Adab, Dr. Anwar Sanusi, M.Ag., menilai kondisi tersebut harus direspons melalui inovasi kampus. Menurutnya, perguruan tinggi perlu terus bergerak mengikuti perubahan, tetapi tetap menjaga dasar keilmuan dan identitas lembaganya.
“Pengembangan kampus harus berjalan bersama dengan penguatan kelembagaan. Inovasi penting, tetapi keberlangsungannya juga harus diperhatikan,” ungkap Dr. Anwar.
Baginya, pengembangan lembaga tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat. Dibutuhkan proses yang terus berjalan agar perubahan yang dilakukan tidak berhenti pada satu program atau satu periode kepemimpinan. Karena itu, pengalaman antarlembaga dapat menjadi bahan pembelajaran untuk melihat bagaimana sebuah perguruan tinggi mempertahankan sekaligus mengembangkan sistem yang telah dibangun.
Wakil Dekan II, Dr. Naela Rifatul Muna, M.Pd.I., menyoroti pentingnya tata kelola antarunit. Menurutnya, kerja sama antarlembaga akan berjalan dengan baik apabila terdapat koordinasi yang jelas di dalam masing-masing institusi. Sebuah kerja sama tidak berhenti pada pertemuan pimpinan. Setelah kesepakatan dibuat, pelaksanaannya membutuhkan keterlibatan fakultas, program studi, maupun unit lain yang berkaitan dengan kegiatan tersebut. Karena itu, komunikasi antarunit menjadi bagian penting agar kerja sama dapat benar-benar dilaksanakan. Pandangan tersebut sejalan dengan isi Nota Kesepahaman yang mengatur bahwa kegiatan kerja sama akan ditindaklanjuti melalui Perjanjian Kerja Sama atau petunjuk teknis yang disepakati kedua pihak. Dalam pelaksanaannya, masing-masing pihak juga akan menunjuk pejabat atau unit kerja yang bertanggung jawab untuk mengoordinasikan kegiatan kerja sama.
Dari sisi program studi, Ketua Program Studi Sejarah Peradaban Islam UII Dalwa, Abdur Rahman, M.Hum., mengatakan bahwa perubahan zaman menjadi tantangan tersendiri bagi Prodi SPI. Perkembangan teknologi membuat cara mahasiswa belajar dan memperoleh informasi sejarah mengalami perubahan. Menurutnya, Prodi Sejarah Peradaban Islam tidak bisa hanya mempertahankan pola pembelajaran lama. Mahasiswa tetap harus memiliki kemampuan memahami sumber sejarah dan metodologi penelitian, tetapi mereka juga perlu dibekali kemampuan untuk berhadapan dengan perkembangan teknologi.
“Tantangan Prodi Sejarah Peradaban Islam ke depan adalah bagaimana kita tetap mempertahankan kekuatan keilmuan sejarah, tetapi mampu menyesuaikannya dengan perubahan zaman. Era disrupsi menuntut kita untuk melihat kembali bagaimana sejarah diajarkan, diteliti, dan disampaikan kepada masyarakat,” kata Abdur Rahman.
Ia menilai pengalaman UIN Siber Syekh Nurjati dapat menjadi bahan penting bagi pengembangan Prodi SPI UII Dalwa. Pendidikan berbasis digital, sistem administrasi tanpa kertas, penelitian, publikasi, serta pemanfaatan teknologi dapat menjadi bagian dari pembelajaran kelembagaan yang diperoleh melalui kegiatan benchmarking tersebut.
Dalam Nota Kesepahaman, ruang kerja sama akademik memang memberikan peluang bagi kedua pihak untuk melakukan pertukaran dosen dan tenaga kependidikan, pertukaran mahasiswa, kegiatan magang atau praktik kerja lapangan, pengembangan kurikulum, penelitian dan publikasi bersama, serta penyelenggaraan seminar, lokakarya, kuliah umum, dan kegiatan ilmiah lainnya. Pemanfaatan perpustakaan, jurnal ilmiah, dan sumber belajar digital juga menjadi bagian dari ruang kerja sama yang disiapkan kedua fakultas. Kerja sama tidak hanya berhenti pada bidang akademik. Pengembangan kampus dan kelembagaan juga menjadi bagian penting dalam nota tersebut. Pengalaman mengenai tata kelola perguruan tinggi, pengembangan sumber daya manusia, penyusunan dokumen mutu dan akreditasi, hingga pengembangan sarana pembelajaran dan teknologi informasi dapat menjadi bagian dari kerja sama yang dikembangkan kedua pihak.
Bagi Prodi Sejarah Peradaban Islam UII Dalwa, pertemuan tersebut memberikan gambaran bahwa perkembangan teknologi bukan sesuatu yang harus dijauhkan dari ilmu sejarah. Sebaliknya, teknologi dapat digunakan untuk memperluas cara mahasiswa mengenal sumber sejarah, mengembangkan penelitian, mendokumentasikan warisan sejarah dan budaya, serta menyampaikan pengetahuan sejarah kepada masyarakat. Kajian naskah Nusantara yang disampaikan Prof. Hajam juga menemukan relevansinya dengan kebutuhan tersebut. Naskah yang selama ini menjadi sumber penting dalam penelitian sejarah dapat dikaji bersama dan dikembangkan dalam bentuk publikasi yang lebih mudah diakses. Dengan demikian, kerja sama akademik tidak hanya menghasilkan kegiatan, tetapi juga dapat menghasilkan pengetahuan yang memiliki manfaat lebih luas.
Benchmarking antara UII Dalwa dan UIN Siber Syekh Nurjati akhirnya menjadi ruang untuk melihat perubahan pendidikan tinggi dari dekat. Dari pembicaraan mengenai penelitian naskah Nusantara, perkembangan publikasi, pendidikan siber, hingga administrasi tanpa kertas, pertemuan tersebut memperlihatkan bahwa perguruan tinggi Islam sedang menghadapi perubahan yang tidak dapat dihindari. Perubahan tersebut sekaligus menjadi tantangan bagi Prodi Sejarah Peradaban Islam untuk terus membaca perkembangan zaman. Keilmuan sejarah tetap menjadi fondasi, sementara teknologi dapat menjadi sarana baru untuk mengembangkan pembelajaran, penelitian, dan penyebaran pengetahuan.
Melalui kerja sama ini, Prodi Sejarah Peradaban Islam UII Dalwa berkomitmen untuk terus bekerja sama dalam memajukan pendidikan, penelitian, dan pengembangan kelembagaan. Komitmen tersebut diarahkan untuk membangun program studi yang berintegritas, mampu mengikuti perkembangan zaman, dan tetap kuat dalam bidang keilmuan sejarah dan peradaban Islam. Pada saat yang sama, Prodi SPI UII Dalwa berupaya menghasilkan sarjana yang memiliki kompetensi keilmuan, mampu mengembangkan pengetahuan sejarah, serta dapat memberikan kontribusi bagi masyarakat melalui ilmu pengetahuan, teknologi, dan dakwah Islamiyah. Hal tersebut sejalan dengan semangat Nota Kesepahaman yang menempatkan kerja sama sebagai jalan untuk mengembangkan pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta sinergi keilmuan dan dakwah Islamiyah antara kedua institusi.Adzim/Randi.S./red.


