Prodi SPI UII DALWA Perkuat Kerja Sama Akademik dengan Kesultanan Kacirebonan

Gambar8

Cirebon, 5 September 2026 – Program Studi Sejarah Peradaban Islam (SPI), Fakultas Ushuluddin dan Adab, Universitas Islam Internasional Darullughah Wadda’wah (UII DALWA) memperkuat jejaring akademik dan pengembangan keilmuan melalui kunjungan ke Kesultanan Kacirebonan, Cirebon, Sabtu (5/9/2026). Kunjungan tersebut ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) kerja sama dalam bidang penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Kerja sama tersebut menjadi langkah strategis dalam membuka ruang kolaborasi antara Prodi SPI UII DALWA dan Kesultanan Kacirebonan, khususnya dalam penelitian sejarah, dokumentasi warisan budaya, pelestarian peninggalan sejarah, serta pengembangan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang berbasis sejarah dan peradaban Islam.

Pihak Kesultanan Kacirebonan dalam kesempatan tersebut diwakili oleh Gusti Kanjeng Sultan Abdul Gani Natadinigrat, S.E. Pertemuan berlangsung dalam suasana akademik dan kekeluargaan, dengan pembahasan mengenai potensi sejarah Kesultanan Kacirebonan sebagai salah satu sumber penting dalam kajian sejarah Islam dan perkembangan peradaban Islam di Nusantara.

Turut hadir dalam agenda penandatanganan MoU tersebut Wakil Rektor II UII DALWA, Dr. Samsul Huda, M.Pd.; Wakil Rektor III, Assoc. Prof. Dr. Imaduddin, M.Pd.; Al Habib Muhammad Agus, Ph.D. selaku pemandu dan pengarah yang sekaligus masih trah keluarga Kesultanan Kacirebonan; Mustakim Asteja sebagai sejarawan Kesultanan Kacirebonan; Kaprodi SPI UII DALWA, Abdur Rahman, M.Hum.; serta para dosen Program Studi Sejarah Peradaban Islam.

Al Habib Muhammad Agus, Ph.D. menuturkan bahwa hubungan antara kajian akademik dengan sumber-sumber sejarah yang hidup di lingkungan kesultanan merupakan bagian penting dalam memperkaya pemahaman mahasiswa dan dosen mengenai perjalanan Islam di Nusantara.

“Cirebon memiliki khazanah sejarah Islam yang sangat kaya. Kesultanan Kacirebonan bukan hanya memiliki nilai sejarah, tetapi juga menyimpan berbagai warisan budaya dan tradisi yang dapat menjadi sumber kajian akademik. Karena itu, kerja sama ini diharapkan dapat membuka ruang yang lebih luas bagi penelitian dan pengembangan keilmuan sejarah peradaban Islam,” ujar Al Habib Muhammad Agus, Ph.D.

Ia menambahkan bahwa keterlibatan perguruan tinggi dalam mengkaji dan mendokumentasikan warisan kesultanan menjadi bagian penting dalam menjaga kesinambungan pengetahuan sejarah bagi generasi mendatang.

Sementara itu, Dosen SPI UII DALWA, Ulum Fasih, M.A., menilai bahwa kunjungan ke Kesultanan Kacirebonan memberikan pengalaman akademik yang penting bagi mahasiswa maupun dosen. Menurutnya, pembelajaran sejarah akan semakin bermakna ketika sumber sejarah dapat ditemui secara langsung dan dikaji dalam konteks lingkungan aslinya.

“Sejarah peradaban Islam tidak cukup dipahami hanya melalui teks dan literatur. Mahasiswa perlu berinteraksi langsung dengan situs, artefak, manuskrip, tradisi, dan lingkungan historis yang menjadi bagian dari perjalanan peradaban. Kesultanan Kacirebonan memberikan ruang yang sangat baik untuk mempertemukan pembelajaran akademik dengan sumber sejarah secara langsung,” jelas Ulum Fasih, M.A.

Setelah agenda kerja sama, rombongan Prodi SPI UII DALWA melanjutkan kunjungan dengan menjelajahi Museum Kesultanan Kacirebonan. Di lokasi tersebut, mahasiswa dan dosen berkesempatan mengamati berbagai peninggalan sejarah dan kebudayaan kesultanan yang memiliki nilai penting bagi kajian sejarah Islam, politik, sosial, dan budaya masyarakat Cirebon.

Kunjungan tersebut sekaligus mempertegas komitmen Prodi SPI UII DALWA untuk mengembangkan pembelajaran sejarah yang berbasis sumber serta memperluas kerja sama dengan lembaga-lembaga yang memiliki kekayaan sejarah dan budaya. MoU dengan Kesultanan Kacirebonan diharapkan tidak berhenti pada penandatanganan dokumen, tetapi dapat ditindaklanjuti melalui penelitian kolaboratif, dokumentasi sejarah, kegiatan ilmiah, serta pengabdian kepada masyarakat.

Melalui kerja sama tersebut, Prodi SPI UII DALWA terus mendorong penguatan tradisi akademik yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan teori, tetapi juga pada kemampuan menggali, membaca, mendokumentasikan, dan melestarikan warisan sejarah Islam sebagai bagian penting dari peradaban Nusantara. (Fasih/Randi.S./Red.)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *