Kuliah “Manunggaling Islam, Sains, dan Teknologi” Bersama Prof Imam Suprayogo

Screenshot 2026-10-21 151034

UII DALWA – Ruang Pascasarjana UII Dalwa kembali diwarnai antusiasme yang hangat saat Prof. Dr. H. Imam Suprayogo memaparkan gagasannya mengenai “Manunggaling Islam, Sains, dan Teknologi” dalam kuliah umum terbarunya di kelas doktoral Manajemen Pendidikan Islam (S3 MPI) Universitas Islam Internasional Dalwa (Ahad 4/10/26).

Dengan menggunakan pendekatan filosofis yang mendalam dan membumi, Ia mengajak para hadirin untuk sejenak menepi dari hiruk-pikuk kehidupan modern dan kembali mengenali anatomi sejati diri manusia. Dalam paparannya, Prof. Imam menyoroti bahwa manusia pada hakikatnya hidup di atas dua dimensi yang tidak terpisahkan, yakni jasmani yang tampak secara wujud fisik dan ruhani yang mengakar di kedalaman batin. Menurutnya, sisi jasmani secara alamiah memang mudah tergoda oleh pesona duniawi, bisikan hawa nafsu, dan godaan setan. Meski demikian, manusia juga dibekali sisi ruhani yang merupakan titipan langsung dari Sang Pencipta, di mana di dalamnya bersemayam sifat-sifat luhur kenabian seperti kejujuran, amanah, keberanian menyampaikan kebenaran, serta kecerdasan. Prof Imam memberikan catatan penting bahwa meskipun berbagai persoalan jasmani mutlak harus diselesaikan dengan kecanggihan sains dan teknologi, tetapi kemajuan tersebut tidak akan pernah mampu menyembuhkan krisis batin atau penyakit hati. Sebab, penyakit ruhani ini hanya sanggup diobati melalui pendekatan moral dan kedekatan dengan agama.

Lebih jauh, Prof. Imam merajut pemahaman tentang diri tersebut dengan seni dan tantangan memimpin sebuah bangsa. Ia mengingatkan dengan tegas bahwa mengurus dan memimpin manusia adalah tugas peradaban yang paling berat, terutama jika melihat tabiat dasar manusia yang kerap mengeluh, ingkar, dan saling berbantah. Di hadapan para akademisi, Prof Imam menekankan bahwa aturan rasional dan regulasi semata tidak akan cukup untuk menertibkan masyarakat. Seorang pemimpin sejati harus mampu melakukan sentuhan spiritual untuk mengangkat derajat masyarakat dari sekadar “manusia” biasa menjadi individu “mukmin” yang batinnya hidup. Ketika kesadaran ruhani masyarakat sudah terbangun, mereka akan berbuat kebaikan secara sadar sehingga ikhtiar untuk memimpin dan merawat keharmonisan sosial akan terasa jauh lebih ringan.

Suasana kuliah umum memuncak ketika Prof. Imam membedah etika komunikasi seorang pemimpin dengan berkaca pada kearifan budaya Nusantara. Mengambil metafora dari panggung pewayangan, beliau menggambarkan bahwa seorang pemimpin tertinggi seharusnya tampil layaknya raja yang sangat hemat dalam bertutur kata. Segala urusan penjelasan teknis dan komunikasi publik, idealnya diserahkan kepada para menteri, patih, atau juru bicaranya. Ia lalu menitipkan pesan fundamental agar setiap pemimpin memegang teguh prinsip “berkata atas benda”, yakni hanya bersuara ketika sudah ada bukti nyata, hasil karya, atau wujud kerja yang jelas. Pantang bagi seorang pemimpin untuk sekadar “berkata atas kata” atau mengumbar janji kosong, sebab kebiasaan tersebut hanya akan melahirkan kegaduhan publik dan membuat wibawa kepemimpinan merosot menjadi bahan olok-olok masyarakat.

Jangan lewatkan kesempatan emas untuk terus mendapatkan asupan gizi rohani dan intelektual secara langsung dari Prof. Dr. H. Imam Suprayogo. Rangkaian kuliah pencerahan ini akan diselenggarakan secara rutin setiap awal bulan selama satu semester (Ganjil 2926-2027) ini. Agenda istimewa ini hadir secara eksklusif hanya di Program Studi Doktoral, Manajemen Pendidikan Islam (S3 MPI), Universitas Islam Internasional Darullughah Wadda’wah.

Mari bergabung, perluas wawasan kepemimpinan Anda, dan bersama-sama merajut keselarasan antara ketajaman akal serta kelembutan batin!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *