Sidogiri – Dosen UII Dalwa, Dr. H. Akhmad Sahrandi, M.Pd.I., mewakili Direktur Pascasarjana UII Dalwa, Assoc. Prof. Dr. Zainal Abidin, M.Pd., CIQAR., CIRK., CIE., sebagai narasumber dalam Seminar Unit Kegiatan Pengembangan Intelektual (UKPI) Jurusan Tarbiyah yang diselenggarakan oleh Organisasi Murid Intra Madrasah (OMIM) Madrasah Aliyah Diniyah Pondok Pesantren Sidogiri pada hari Selasa 29 Juli 2026 di Aula Pondok Pesantren Sidogiri . Seminar yang mengusung tema “Relasi Ilmu Tarbiyah dalam Membangun Generasi Berilmu, Berakhlak, dan Berdaya Saing” tersebut diikuti sekitar 500 santri kelas II dan III Madrasah Aliyah Diniyah.
Kegiatan diawali dengan pembukaan oleh pembawa acara, Ust. Ubaidillah, yang dilanjutkan dengan pembacaan Surah Al-Fatihah. Selanjutnya, sesi utama seminar dipandu oleh host, Ust. Ahmad Naufal Syarif. Wakil I Kepala MMU Aliyah Pondok Pesantren Sidogiri, Ust. Muhammad Mufid, menyampaikan sambutan sekaligus memberikan motivasi kepada para santri agar senantiasa menjaga semangat menuntut ilmu. Menurutnya, seorang pelajar tidak boleh merasa cukup terhadap ilmu yang telah diperoleh, sebab ketika seseorang merasa cukup, maka pada hakikatnya proses pembelajaran telah berhenti. Ia juga mengingatkan pentingnya kedisiplinan dalam menaati seluruh peraturan madrasah sebagai bagian dari pembentukan karakter santri.
Mengacu pada materi yang dipaparkan, Dr. Sahrandi menjelaskan bahwa ilmu Tarbiyah merupakan disiplin yang memiliki dimensi epistemologis, moral, dan sosial yang integral, sehingga tidak hanya berorientasi pada proses pembelajaran di ruang kelas, tetapi juga pada pembentukan peradaban. Ia menguraikan bahwa pendidikan Islam dibangun atas integrasi konsep tarbiyah, ta’lim, dan ta’dib, yang menjadi fondasi dalam melahirkan insan berilmu sekaligus beradab.
Dalam pemaparannya, ia juga mengangkat pentingnya menghilangkan dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum melalui paradigma integrasi keilmuan. Menurutnya, pendidikan Islam harus mampu mengembalikan ilmu kepada orientasi tauhid sehingga penguasaan sains dan teknologi tetap berpijak pada nilai-nilai keislaman. Ia menegaskan bahwa krisis pendidikan pada era modern tidak hanya berkaitan dengan lemahnya penguasaan ilmu, tetapi juga berakar pada krisis adab yang berdampak pada kekeliruan dalam memahami hakikat ilmu dan otoritas keilmuan.
Lebih lanjut, Dr. Sahrandi memaparkan bahwa pembentukan generasi unggul harus dibangun melalui keseimbangan antara penguatan intelektual, pembinaan akhlak, dan pengembangan daya saing. Menurutnya, literasi ilmiah, kemampuan berpikir kritis, serta penguasaan ilmu pengetahuan harus berjalan beriringan dengan tazkiyatun nafs, keteladanan, dan pembentukan lingkungan pendidikan yang kondusif. Nilai-nilai tersebut menjadi prasyarat lahirnya generasi yang mampu menjawab tantangan global tanpa kehilangan identitas keislamannya.
Ia juga menyoroti pentingnya penguasaan kompetensi abad ke-21 yang meliputi kreativitas, kolaborasi, komunikasi, dan literasi digital yang berlandaskan nilai-nilai Islam. Prinsip itqan (profesionalisme) dan kafa’ah (kompetensi) menjadi karakter utama yang harus dimiliki generasi muslim agar mampu berkontribusi secara produktif dalam berbagai bidang kehidupan. Menurutnya, pendidikan Tarbiyah tidak hanya menghasilkan pendidik, tetapi juga melahirkan pemimpin, pengelola lembaga, peneliti, dan agen perubahan sosial yang berintegritas.
Seminar berlangsung dinamis melalui sesi Question and Answer (Q&A). lima ratus peserta menunjukkan antusiasme tinggi dengan mengajukan berbagai pertanyaan mengenai prospek keilmuan Tarbiyah, tantangan pendidikan Islam di era digital, serta strategi membangun generasi yang adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Sebagai penutup, panitia menyerahkan cendera mata kepada narasumber yang disampaikan secara langsung oleh Wakil II Kepala MMU Aliyah Pondok Pesantren Sidogiri, Ust. Abdul Qadir. Kegiatan kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Dr. H. Akhmad Sahrandi, M.Pd.I.
Seminar UKPI Jurusan Tarbiyah ini menjadi momentum penting dalam memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan pesantren dalam mengembangkan tradisi intelektual Islam. Melalui forum akademik tersebut, diharapkan lahir generasi muslim yang memiliki keluasan ilmu, kematangan akhlak, wawasan global, serta daya saing yang kuat dengan tetap berlandaskan nilai-nilai Al-Qur’an dan As-Sunnah.Randi.S./red.



