Transformasi Citra Pesantren dan Reorientasi Teknologi: Catatan Akademik dari Nyate Akbar Rektor dan Direktur Pascasarjana Bersama Tiga Selebritas Ibu Kota

MG_0459-scaled

UII DALWA – Universitas Islam Internasional kembali mengukir catatan sejarah baru dalam syiar akademik dan budayanya. Dua hari pasca-Hari Raya Idul Adha 1447 H, tepatnya pada Jumat malam (29/05/2026), Pondok Pesantren (Ponpes) Dalwa menggelar perhelatan tahunan “Nyate Akbar”. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, event kali ini dikemas secara monumental dalam format Talkshow Cultural Academic yang menghadirkan tiga pesohor papan atas tanah air: Ruben Onsu, Azis Gagap, dan Daus Mini. Kehadiran trio komunikator publik ini dijembatani oleh Habib Ali Zainal Abidin Al-Kaff atas restu Pengasuh Ponpes Dalwa Abuya Habib Zain Baharun.

Di balik kemeriahan bakar 150.000 tusuk sate dan gemuruh tarian Saman khas Aceh, acara ini membedah dua diskursus krusial dalam dunia pendidikan Islam kontemporer melalui sesi talkshow interaktif. Sesi ilmiah ini menghadirkan Rektor UII Dalwa Assoc. Prof. Segaf Baharun, M.H.I., M.Pd.I., dan Direktur Pascasarjana UII Dalwa Assoc. Prof. Dr. Al-Habib Zainal Abidin, M.Pd., CIRK, CIQaR, CIE.

Dalam sesi dialog yang dipandu oleh Ruben Onsu, muncul sebuah pertanyaan eksistensial mengenai posisi teknologi: Apakah kecanggihan aplikasi dan internet hari ini mendekatkan manusia kepada agama, atau justru menjauhkannya?

Merespons hal tersebut, Rektor UII Dalwa, Habib Assoc. Prof. Segaf Baharun, memberikan ulasan berbasis epistemologi Islam. Beliau menegaskan bahwa Al-Qur’an telah meletakkan fondasi bagi setiap lini kehidupan manusia, termasuk perkembangan teknologi.

“Allah Swt. memerintahkan dalam Al-Qur’an: ‘Wabtaghuu ilaihil-wasiilah” hendaknya kalian menuju keridaan Allah dengan berbagai macam perantara. Di era kontemporer, perantara (wasilah) itu manifestasinya adalah teknologi. Namun, teknologi harus disikapi dengan bijak,” papar Rektor UII Dalwa.

Beliau memitigasi pandangan peyoratif sepihak terhadap modernisasi digital, seraya mengingatkan pentingnya menempatkan teknologi pada otoritas yang tepat (the right man on the right place), sesuai dengan peringatan kenabian bahwa penyerahan urusan kepada yang bukan ahlinya akan berujung pada kerusakan.

Sebagai bentuk implementasi sosiologis di lingkungan domestik pesantren, Rektor menganalogikan gawai (smartphone) seperti pisau dapur. Jika berada di tangan seorang koki, ia melahirkan kemaslahatan; namun jika dipegang anak kecil atau pihak yang salah, ia memicu kerawanan. Atas dasar instrumen proteksi akademik itulah, penggunaan gawai bagi santri tingkat dasar dan menengah masih dibatasi agar fokus pembelajaran tetap terjaga.

Sementara itu, Direktur Pascasarjana UII Dalwa menyoroti tantangan sosiologis yang dihadapi generasi santri masa kini. Di hadapan ribuan pasang mata, beliau mendekonstruksi pemikiran bias masyarakat awam yang kerap melabeli pesantren dengan citra kumuh, kotor, atau tidak sehat.

Menurut Direktur Pascasarjana sebagai institusi pendidikan tertua dan paling kokoh di Indonesia, pesantren memiliki tanggung jawab moral untuk merevitalisasi representasi fisiknya sejalan dengan keluhuran ilmu yang diajarkan di dalamnya.

“Di pesantren ini, ilmu Rasulullah yang dibacakan. Jika ilmunya tinggi, maka wadahnya (fasilitas dan infrastrukturnya) juga harus bagus dan berkualitas. Event malam ini, dengan kemegahan dan kebersihannya, adalah bukti otentik bahwa kita bergerak maju mengangkat harkat pesantren ke garda depan peradaban,” tegas Direktur Pascasarjana tersebut.

Sisi emosional dan humanis acara tercermin saat ketiga figur publik tersebut turun langsung dari panggung utama untuk berbaur dengan para santri di area Taman Baca Dalwa. Dialog interaktif yang cair, candaan spontanitas dari Azis Gagap, hingga dinamika komedi situasional dari Daus Mini bersama Abuya Habib Zain Baharun berhasil meruntuhkan sekat formalitas antara kaum selebriti dan entitas sarungan.

Ruben Onsu secara terbuka menyatakan ketakjubannya terhadap kohesi sosial yang terbangun di Ponpes Dalwa. “Selama saya menjadi pengisi acara, baru kali ini saya melihat acara komunal berbasis pesantren yang begitu megah, dengan rasa kekeluargaan dan kekompakan yang sangat kuat,” ungkap Ruben.

Perhelatan akbar ini ditutup secara khidmat dengan pembacaan doa oleh Pengasuh Pondok Pesantren, yang kemudian dilanjutkan dengan ritus kultural makan bersama (mayoran). Melalui integrasi antara hiburan populer dan refleksi akademis ini, UII Dalwa berhasil mengirimkan pesan kuat kepada level nasional: bahwa pesantren masa kini adalah lokomotif kemajuan yang adaptif terhadap teknologi, inklusif, namun tetap kokoh memegang khazanah tradisi Islam spiritual.Randi.S./Dhimas/red.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *