Oleh: Dr. Kholili Hasib
Kaprodi S3 PAI UII Dalwa-Bangil
Dalam sejarah pemikiran Islam kontemporer, tidak banyak tokoh yang mampu menghadirkan suatu bangunan pemikiran yang utuh tentang ilmu, manusia, dan peradaban. Di antara sedikit tokoh itu, nama Prof.Syed Muhammad Naquib al-Attas (Prof. al-Attas) menempati posisi yang sangat istimewa.
Pemikiran Prof. al-Attas tidak sekadar memaparkan teori atau kritik akademik semata. Ia menawarkan suatu bangunan pemikiran yang utuh tentang Islam sebagai pandangan hidup (world view), tentang hakikat ilmu yang benar dan adil, serta tentang peradaban Islam sebagai hasil dari pandangan dunia yang dibimbing wahyu. Dalam berbagai tulisannya, beliau berulang kali menegaskan bahwa krisis utama umat Islam bukan semata-mata krisis politik atau ekonomi, melainkan krisis epistemologis dan krisis adab sebuah kekacauan konseptual dalam memahami ilmu, manusia, dan realitas.
Di tengah guncangan modernitas yang melanda dunia Islam, pemikiran al-Attas tampil sebagai cahaya intelektual yang jernih. Ketika sebagian umat Islam terjebak pada dua kutub ekstrem antara sekularisme Barat yang meminggirkan wahyu dan fundamentalisme yang anti kritik serta anti keilmuan, al-Attas menawarkan jalan yang lebih mendalam: kembali kepada tradisi keilmuan Islam yang autentik, namun dengan kesadaran filosofis untuk menjawab tantangan zaman.
Salah satu kontribusi terbesarnya adalah gagasan tentang Islamisasi ilmu pengetahuan. Bagi Prof. al-Attas, Islamisasi bukanlah sekadar memberi label “Islam” pada berbagai disiplin ilmu, melainkan suatu usaha peradaban untuk memurnikan ilmu dari unsur-unsur world view sekuler dan materialistik yang bertentangan dengan tauhid. Dalam kerangka ini, beliau memperkenalkan konsep ta’dīb sebagai inti pendidikan Islam, suatu proses pembentukan manusia beradab yang mengetahui tempat yang tepat bagi segala sesuatu dalam tatanan wujud dan pengetahuan.
Kehidupan intelektual Prof. al-Attas tumbuh dari dua pengalaman besar: tradisi pendidikan Islam klasik dan pendidikan modern Barat. Dari sisi nasab dan lingkungan keluarga, beliau lahir dalam tradisi keilmuan yang kuat. Prof. Al-Attas dilahirkan di Bogor pada 5 September 1931 dari keluarga ulama habaib yang memiliki hubungan erat dengan tradisi tarekat Ba‘alawi. Kakeknya, Habib Abdullah bin Muhsin al-Attas yang dikenal sebagai “Habib Empang Bogor” dikenal luas sebagai ulama dan tokoh spiritual yang dihormati tidak hanya di Nusantara, tetapi juga di Hadramaut.
Sejak kecil Prof. al-Attas telah terbiasa hidup dalam atmosfer keilmuan dan spiritualitas. Pendidikan dasar Islamnya ditempuh di Madrasah al-‘Urwah al-Wutsqa di Sukabumi Jawa Barat, sebuah lembaga pendidikan yang menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa pengantar dan mengajarkan kitab-kitab turats.
Pengalaman ini membentuk fondasi intelektualnya. Kemudian beliau melanjutkan pendidikan di Johor, Malaysia, dan berinteraksi dengan lingkungan kesultanan. Di sana ia mulai menekuni sejarah, sastra, dan manuskrip Melayu klasik. Akses terhadap manuskrip-manuskrip lama dan literatur Barat di perpustakaan keluarga kerajaan memperkaya wawasan intelektualnya.
Ketertarikannya terhadap sejarah dan pemikiran Melayu Islam kemudian melahirkan karya-karya penting seperti kajiannya tentang Hamzah Fansuri dan Nuruddin al-Raniri. Penelitian tersebut kelak menjadi landasan awal bagi gagasan besar tentang Islamisasi ilmu pengetahuan.
Perjalanan intelektual Prof. al-Attas kemudian berlanjut ke dunia akademik Barat. Ia melanjutkan studi di Institute of Islamic Studies, Universitas McGill, Kanada, sebuah institusi yang didirikan oleh Wilfred Cantwell Smith. Di sana ia berinteraksi dengan berbagai sarjana besar seperti Hamilton Gibb, Toshihiko Izutsu, Fazlur Rahman, dan lain-lain.
Pengalaman ini tidak menjadikan Prof. al-Attas larut dalam arus pemikiran orientalis, tetapi justru menajamkan nalar kritisnya terhadap cara Barat memahami Islam. Hal ini semakin tampak ketika ia melanjutkan studi doktoralnya di SOAS London di bawah bimbingan A. J. Arberry dan Martin Lings. Disertasinya yang berjudul The Mysticism of Hamzah Fansuri menunjukkan kedalaman kajiannya terhadap metafisika tasawuf Melayu.
Puncak karier intelektual Prof. al-Attas tercermin ketika ia mendirikan International Institute of Islamic Thought and Civilization pada tahun 1987. Lembaga ini dirancang sebagai pusat keilmuan yang mengintegrasikan tradisi intelektual Islam dengan standar akademik internasional.
Di ISTAC, gagasan-gagasan Prof. al-Attas tentang metafisika Islam, epistemologi, pendidikan, dan Islamisasi ilmu pengetahuan menemukan bentuk institusionalnya. Ia membayangkan sebuah universitas Islam yang bukan sekadar meniru model Barat, tetapi berakar pada pandangan hidup Islam.
Salah satu pertanyaan penting bagi generasi umat Islam hari ini adalah: apa saja warisan intelektual Prof. al-Attas yang paling berharga ?. Warisan tersebut tidak hanya berupa gagasan, tetapi juga karya-karya monumental yang membentuk kerangka pemikiran Islam kontemporer. Di antara karya terpentingnya adalah:
Pertama, Islam and Secularism (1978), sebuah karya klasik yang menjelaskan akar sekularisme Barat dan dampaknya terhadap dunia Islam. Dalam buku ini Prof. al-Attas menunjukkan bagaimana sekularisasi telah mengubah cara manusia memahami ilmu, agama, dan realitas.
Kedua, Prolegomena to the Metaphysics of Islam (1995), karya monumental yang menguraikan secara sistematis pandangan hidup Islam. Buku ini menjelaskan konsep wujud, ilmu, manusia, wahyu, serta hubungan antara metafisika dan epistemologi dalam Islam.
Ketiga, The Concept of Education in Islam, sebuah karya penting yang memperkenalkan konsep ta’dīb sebagai inti pendidikan Islam. Buku ini menjadi salah satu referensi utama dalam diskursus pendidikan Islam kontemporer.
Keempat, Risalah untuk Kaum Muslimin, sebuah karya reflektif yang mengingatkan umat Islam tentang krisis adab dan kekacauan ilmu yang sedang mereka alami.
Kelima, karya-karyanya tentang sejarah intelektual Melayu-Islam seperti, Historical Fact and Faction, The Mysticism of Hamzah Fansuri dan Some Aspects of Sufism as Understood and Practised among the Malays. Karya-karya ini menunjukkan kedalaman tradisi intelektual Islam di Nusantara.
Keseluruhan karya tersebut membentuk suatu bangunan pemikiran yang utuh: dari kritik terhadap sekularisme, penjelasan tentang metafisika Islam, hingga konsep pendidikan yang berlandaskan adab.
Bagi saya pribadi, perjumpaan dengan pemikiran al-Attas merupakan pengalaman intelektual yang membekas.
Bagi saya pribadi, perjumpaan dengan pemikiran Prof. al-Attas bukan sekadar pengalaman membaca buku. Ia adalah perjalanan intelektual yang perlahan membentuk cara pandang terhadap ilmu dan kehidupan.
Pertama kali saya bersentuhan dengan gagasan Prof. al-Attas ketika menelaah buku Risalah untuk Kaum Muslimin. Saat itu saya masih belajar di PKU (Program Kaderisasi Ulama) MUI- Gontor lalu lanjut kuliah Pascasarjana di bawah bimbingan Prof. Hamid Fahmy Zarkasyi. Di kelas Prof. Hamid beberapa kali mengutip Prof. al-Attas. Rasa penasaran mendorong saya mencari karya-karyanya, hingga akhirnya menemukan buku kecil tersebut.
Buku kecil itu terasa seperti sebuah teguran intelektual: bahwa masalah terbesar umat Islam bukan sekadar kemunduran material, tetapi kekacauan dalam memahami ilmu dan kehilangan adab terhadap ilmu itu sendiri. Saya baca sampai khatam. Saya juga ulangi baca beberapa bagian. Beberapa musykilah saya ajukan pertanyaan ke Prof. Hamid di kelas.
Ketika itu saya bergumam dalam hati; “Ini pemikiran hebat. Apa benar beliau ini hidup di zaman kita? atau sezaman imam al-Ghazali tapi dihadirkan zaman ini?”
Perjumpaan berikutnya terjadi ketika saya mendaras karya monumental Prof. al-Attas, Prolegomena to the Metaphysics of Islam, dalam kajian yang dibimbing Prof. Ugi Suharto. Sekitar tahun 2013 beliau mengadakan Dars dengan peserta terbatas. Mendars buku ini seakan memasuki sebuah bangunan metafisika yang kokoh. Di dalamnya dijelaskan bagaimana wujud, ilmu, manusia, dan wahyu terhubung dalam suatu pandangan hidup yang utuh.
Kemudian pengalaman itu semakin diperkaya ketika saya mengikuti perkuliahan Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud di Pascasarjana UII Dalwa bersama para dosen dari CASIS. Selam dua semester saya mengikuti perkuliahan beliau. Dalam perkuliahan tersebut, pemikiran Prof. al-Attas tidak hanya dipelajari sebagai teori, tetapi sebagai tradisi intelektual yang hidup—sebuah warisan pemikiran yang terus berkembang melalui para muridnya.
Di pascasarjana UII Dalwa, pemikiran Prof. al-Attas menjadi salah satu rujukan utama dalam bidang akademik. Kami belajar mempraktikkan pemikiran itu dalam dunia akademik. Tentu tidak mudah. Tantangannya sungguh besar. Namun, sekecil apa pun upaya itu. Idealisme tetap kita jadikan landasan fundamental untuk terus menyempurnakan.
Kesimpulannya, mempelajari pemikiran Prof. al-Attas harus dengan guru. Tanpa penjelasan guru, kita hanya menyentuh kulit-kulit pemikirannya. Bahkan bisa salah faham.
Menurut Prof. al-Attas, tantangan terbesar yang dihadapi umat Islam modern bukanlah kemiskinan ekonomi atau kelemahan politik, melainkan kekacauan ilmu (confusion of knowledge) dan kehilangan adab (loss of adab).
Ilmu modern, menurut beliau, dibangun di atas worldview Barat yang memisahkan agama dari ilmu dan iman dari rasio. Dalam kerangka ini, ilmu dipahami sebagai sesuatu yang bebas nilai, padahal dalam pandangan Islam ilmu selalu terkait dengan kebenaran dan tanggung jawab moral.
Akibatnya, umat Islam yang mengadopsi sistem pendidikan modern tanpa kritik sering kali mengalami disorientasi intelektual. Mereka memiliki banyak informasi, tetapi kehilangan hikmah. Mereka memiliki teknologi, tetapi kehilangan tujuan hidup.
Di tengah kekacauan zaman yang ditandai oleh relativisme moral, krisis identitas, dan kebingungan intelektual, pemikiran Prof. al-Attas menjadi semakin relevan.
Beliau mengingatkan bahwa peradaban tidak dibangun hanya dengan kekuatan ekonomi atau teknologi, tetapi dengan pandangan hidup yang benar dan manusia yang beradab.
Apa yang hilang dari umat Islam hari ini bukan sekadar kekuatan politik, tetapi ketertiban ilmu dan adab. Ketika ilmu kehilangan orientasi tauhid, maka ia berubah menjadi alat kekuasaan atau sekadar instrumen materialisme.
Di sinilah pemikiran Prof. al-Attas memberikan arah bagi masa depan umat Islam. Ia mengajak kita untuk membangun kembali peradaban melalui pendidikan yang berlandaskan adab, melalui ilmu yang berakar pada wahyu, dan melalui manusia yang sadar akan tujuan hidupnya.
Pada akhirnya, warisan intelektual Prof. al-Attas bukan sekadar kumpulan buku atau teori. Ia adalah suatu panggilan peradaban—panggilan agar umat Islam kembali menata ilmu, menata jiwa, dan menata peradaban berdasarkan ilmu.
Dan selama umat Islam masih mencari jalan untuk keluar dari kekacauan zaman, pemikiran Prof. al-Attas akan tetap menjadi cahaya yang menuntun arah perjalanan itu.
Warisan intelektual Prof. al-Attas bukan hanya berupa buku-buku dan konsep-konsep filosofis saja. Ia adalah suatu panggilan untuk menata kembali kehidupan umat Islam dari fondasi yang paling dalam: ilmu dan adab.
Selama umat Islam masih mencari jalan keluar dari kebingungan zaman, selama ilmu masih dipisahkan dari iman, dan selama pendidikan masih kehilangan ruhnya, pemikiran al-Attas akan tetap relevan.
Ia bukan sekadar seorang sarjana. Ia adalah pengingat bahwa peradaban tidak dibangun hanya dengan kekuatan materi, tetapi dengan kejernihan ilmu dan keluhuran adab.
Dan selama cahaya ilmu itu masih dinyalakan, jalan menuju kebangkitan peradaban Islam akan selalu terbuka.
Guru kami, Prof. Ugi, beberapa kali menyampaikan bahwa pemikiran prof. al-Attas adalah pemikiran masa depan umat. Beliau telah tiada. Tapi warisan ilmu dan intelektualnya tetap hidup. Mungkin bisa ratusan tahun ke depan.
Bangil, 21 Ramadhan 1447 H