UII DALWA – Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Dalwa Berita kembali menggelar agenda bulanan Book Party sebagai bagian dari upaya penguatan budaya literasi di lingkungan kampus dan pesantren. Kegiatan ini menghadirkan Ustadz Fasihin, Lc., sebagai narasumber utama dalam sesi talkshow yang berlangsung pada Jumat malam (02/01/2026) di Dalwa Café Syariah.
Dalam paparannya, Ustadz Fasihin menegaskan urgensi membaca sebagai fondasi utama kemajuan intelektual mahasiswa dan santri. Ia mengawali materi dengan mengutip Al-Qur’an Surah Al-‘Alaq ayat 1, yang menegaskan bahwa perintah pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW adalah perintah membaca (iqra’).
“Perintah awal Islam bukanlah tentang ritual ibadah, melainkan membaca. Dari sini kita memahami bahwa Islam tidak lahir dari kekuatan pedang, tetapi dari kekuatan ilmu. Dan ilmu hanya bisa diperoleh melalui membaca,” ungkapnya di hadapan peserta.
Lebih lanjut, ia menyampaikan ungkapan reflektif, “Ummatun taqra’, ummatun tarqo’,” yang bermakna bahwa umat yang gemar membaca adalah umat yang maju. Menurutnya, budaya literasi memiliki korelasi langsung dengan kemajuan peradaban suatu bangsa.
Sebagai contoh empiris, Ustadz Fasihin mengangkat Jepang sebagai negara yang berhasil membangun peradaban maju melalui budaya membaca yang ditanamkan sejak usia dini. Ia menjelaskan bahwa kebiasaan membaca telah menjadi bagian integral dari sistem pendidikan di Jepang.
“Pertanyaan pertama yang kerap diajukan guru kepada murid setelah masa liburan bukanlah tentang rekreasi, tetapi berapa banyak buku yang telah mereka selesaikan,” jelasnya.
Ia juga menyoroti sejarah kebangkitan Jepang pasca-Perang Dunia II. Menurutnya, langkah awal yang dilakukan masyarakat Jepang setelah tragedi bom atom bukan semata membangun infrastruktur fisik, melainkan membangun fondasi pendidikan dengan membuka kembali kegiatan belajar mengajar, meskipun dalam kondisi keterbatasan.
“Dari sanalah lahir generasi terdidik yang dalam waktu singkat mampu bersaing dengan negara-negara besar, termasuk Amerika Serikat, baik dalam bidang teknologi maupun kemanusiaan,” tuturnya.
Dalam aspek praksis literasi, Ustadz Fasihin menekankan bahwa membaca tidak selalu harus menyelesaikan satu buku secara utuh. Ia mendorong santri untuk membangun konsistensi membaca secara bertahap dan berkelanjutan.
“Cukup luangkan sepuluh menit setiap hari. Ambil satu buku, baca satu paragraf, lalu tuliskan kembali dengan redaksi kita sendiri. Cara ini jauh lebih efektif dalam menumbuhkan daya pikir kritis,” jelasnya.
Pada sesi wawancara, ia menegaskan bahwa membaca merupakan bagian dari kewajiban tholibul ‘ilmi (penuntut ilmu). Menurutnya, membaca bukan hanya aktivitas akademik, melainkan sarana membuka cakrawala pemikiran.
“Dengan membaca, wawasan kita terbuka luas. Kita dapat mengenal dunia dan peradaban lain tanpa harus hadir secara fisik di sana,” pungkasnya.
Menutup kegiatan, Ustadz Fasihin berharap agar agenda Book Party dapat terus dikembangkan dengan tema-tema yang relevan bagi santri dan mahasiswa. Ia optimistis, penguatan budaya literasi akan berdampak signifikan terhadap peningkatan kualitas intelektual dan akademik santri di lingkungan Dalwa.Dimas/Randi.S./red.






